Baru-baru ini, sebuah artikel menjelaskan tentang bagaimana kecerdasan buatan (AI) membuat PR untuk bekerja lebih pintar dan menangani pergerakan era AI ini.
Artikel itu membahas bagaimana AI tidak hanya mengubah cara konten dibuat, tetapi juga cara orang mencari dan menemukan informasi.
Di tengah semakin banyaknya orang yang mengandalkan ChatGPT, Google AI, dan mesin AI lainnya untuk mencari jawaban, banyak praktisi PR khawatir AI akan mengambil alih pekerjaan mereka.
Namun, AI bukan sekadar ancaman. Justru, perubahan ini mendorong praktisi PR untuk bekerja lebih cerdas dengan membangun keahlian, narasi, dan hubungan yang tidak dapat digantikan oleh AI.
RadVoice Indonesia merangkum beberapa pelajaran utama dari artikel tersebut yang dapat membantu praktisi PR tetap relevan di era AI.
AI Mencari Pola, Bukan Sekadar Kata Kunci

Menurut Fast Company, AI tidak lagi sekadar mencocokkan kata kunci, tetapi juga menganalisis pola dari berbagai sumber untuk memahami suatu topik.
Jika mesin pencari tradisional mencari halaman yang mengandung kata tertentu, AI justru membandingkan berbagai sumber untuk menemukan narasi yang paling konsisten dan kredibel.
Semakin sering sebuah topik dibahas secara mendalam dari berbagai sudut pandang dan didukung oleh banyak sumber tepercaya, semakin besar peluang informasi tersebut muncul dalam jawaban AI.
Karena itu, membangun keahlian pada satu bidang melalui konten yang konsisten dan berkualitas menjadi lebih penting daripada sekadar mengejar optimasi SEO.
Baca juga: 5+ Cara Meraih Earned Media, Salah Satunya Manfaatkan SEO!
Bangun Hubungan dengan Jurnalis, Bukan Spam Pitches

Di bidang PR masih banyak yang bergantung pada pitches dan press release yang dikirim ke jurnalis, tapi strategi itu udah bisa digantikan oleh AI.
Sekarang saatnya fokus pada hubungan yang autentik dan pemahaman mendalam tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan setiap jurnalis.
Sementara AI memang bisa membuat draft press release dan unggahan media sosial , AI tidak bisa memahami dinamika unik hubungan dengan jurnalis atau membangun kepercayaan jangka panjang yang autentik.
Riset Cision terhadap ribuan jurnalis menunjukkan bahwa 78% jurnalis akan memblokir seorang PR profesional jika mereka terus di-spam dengan pitches yang tidak relevan.
Tapi di sisi lain, jurnalis tetap menghargai praktisi PR yang memberikan story ideas yang unik, yang sudah melakukan riset, dan yang mengerti audiens mereka.
Jadi, daripada menggunakan AI untuk email blast 1.000 pitches per hari, lebih baik praktisi PR menggunakan AI untuk riset mendalam tentang setiap jurnalis.
Baca juga: Contoh Strategi Media Relations untuk Brand yang Ingin Meningkatkan Awareness
Gunakan AI Sebagai Asisten, Bukan Pengganti Penilaian

Artikel SEQARA Communications mengatakan bahwa AI memang dapat mempercepat pekerjaan PR, mulai dari analisis data, penyusunan konten, hingga pemantauan media.
Namun, semua hasil yang diberikan AI tetap harus divalidasi oleh manusia.
Praktisi PR tidak seharusnya langsung menggunakan informasi atau konten yang dihasilkan AI tanpa memeriksa kembali sumber, akurasi, dan konteksnya.
Kesalahan atau bias dari AI dapat berdampak pada reputasi organisasi jika informasi yang disampaikan ternyata tidak sesuai dengan fakta.
Mestinya, AI diposisikan sebagai alat pendukung, bukan pengganti kreativitas, penilaian profesional, dan pertimbangan etis manusia.
Transparansi, validasi informasi, serta tanggung jawab terhadap publik tetap menjadi bagian penting dari pekerjaan PR, meskipun prosesnya kini dibantu oleh teknologi AI.
Baca juga: 15 Keyword Tool Gratis yang Bisa Dimanfaatkan untuk Bisnis
Kesimpulan

Pada akhirnya, AI mengubah cara kerja industri PR, tetapi tidak menggantikan peran manusia.
Teknologi ini dapat membantu mempercepat riset, analisis, dan pembuatan konten.
Dengan ini, praktisi PR tetap berperan dalam membangun hubungan, menyusun strategi, dan memastikan setiap informasi akurat dan etis.
Pada akhirnya, praktisi PR yang mampu memanfaatkan AI sebagai alat pendukung, bukan pengganti, akan lebih siap menghadapi perkembangan industri ke depan.

PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
