Beberapa tahun terakhir, cara orang menikmati cerita mulai berubah. Sebagian memilih mendengarkan podcast saat perjalanan menuju kantor, sebagian lain menyelesaikan audiobook sambil berolahraga atau mengerjakan aktivitas sehari-hari.
Perubahan ini juga tercermin dalam riset Edison Research yang menunjukkan konsumsi podcast selama beberapa waktu belakangan seiring format audio menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat modern.
Dengan berkembangnya berbagai format audio tersebut, profesi voice actor pun semakin dikenal dan menarik minat banyak orang untuk mencobanya.
Namun, banyak yang belum tahu bahwa menjadi voice actor membutuhkan proses yang serius, jauh dari sekadar bermodal suara bagus. Ratu Neysa, yang akrab disapa Ney, membagikan tips dan pengalamannya sebagai voice actor bagi yang ingin menapaki karier ini.Â
Baca juga:Dari Isu Artis ke Bisnis, Begini Cara Nadiyas Utami Pratiwi Bikin Berita Ekonomi Jadi Lebih Ramah Dibaca
Berawal dari Rasa Penasaran di Balik Ruang Rekaman
Sebelum terjun sebagai voice actor, Ney bekerja sebagai bagian dari tim brand di sebuah perusahaan FMCG. Saat terlibat dalam produksi sebuah iklan, ia berkesempatan menyaksikan langsung proses rekaman bersama seorang voice actor.
Momen singkat itu menjadi titik awal ketertarikannya terhadap profesi yang sebelumnya terasa asing. Hal yang membekas untuknya adalah realita bahwa seseorang yang terdengar biasa di luar studio mampu berubah sepenuhnya ketika mulai berbicara di depan mikrofon.
“Ketika berkenalan di luar recording booth, dia seperti orang biasa dengan suara biasa saja. Tapi ketika sudah masuk studio, suaranya beda sekali. Sangat profesional, paham brief dari kami dan bisa menyampaikan sesuai arahan.”

Rasa penasaran tersebut semakin berkembang saat pandemi 2021. Ketika semua orang mencari hal baru untuk dicoba, Ney menemukan dirinya berkutat menggali banyak informasi terkait voice over.Â
Ney memulainya dari mempelajari karya-karya kreator luar negeri, mengikuti karya para senior di Indonesia, hingga belajar tentang bagaimana industri tersebut bekerja.
Dari proses ini, Ney menyadari bahwa menjadi voice actor tidak bisa dibangun dalam waktu singkat.
Baca juga:Musik AI Semakin Marak, Ini Tantangan Jadi Komposer dan Produser Bagi Farhan Sarasin
Menjadi Voice Actor Bukan Sebatas Suara Merdu
Semakin banyak belajar, semakin Ney memahami bahwa salah satu kesalahpahaman terbesar tentang profesi ini adalah anggapan bahwa suara yang bagus sudah cukup untuk menjadi seorang voice actor.
Padahal, menurutnya pekerjaan ini menuntut kemampuan yang jauh lebih luas. Seorang voice actor harus mampu memahami karakter naskah, menangkap kebutuhan klien, hingga menyampaikan emosi dan pesan kepada audiens sesuai tujuan sebuah proyek.

“Voice actor itu bukan hanya baca naskah dan modal suara, tapi harus bisa menyampaikan pesan yang sesuai untuk audiens yang dituju.”
Kemampuan tersebut juga perlu terus diasah. Mulai dari memahami brief, menginterpretasikan naskah, hingga membangun komunikasi yang baik selama proses produksi menjadi bagian penting dari pekerjaan seorang voice actor.
Bagi Ney, keterampilan-keterampilan inilah yang justru membuat seseorang mampu berkembang di industri dalam jangka panjang.
Komunitas Menjadi Tempat Belajar yang Berharga
Jika diminta mengulang kembali perjalanannya dari awal, ada satu hal yang ingin dilakukan Ney lebih cepat, yakni bergabung dengan komunitas voice over.
Menurutnya, komunitas menjadi ruang untuk belajar dari pengalaman para senior, mengikuti pelatihan, hingga mendapatkan informasi mengenai kesempatan dan perkembangan industri.
“Komunitas benar-benar jadi jendela ilmu dan networking di VO, bahkan info casting project.”
Selain aktif mengikuti pelatihan, Ney juga menyarankan pemula untuk tidak ragu bertanya kepada mereka yang lebih berpengalaman serta mencoba berbagai kompetisi sebagai sarana mengasah kemampuan.
Baca juga:Mengapa Komunitas Semakin Populer? Memahami Fenomena Orang Berkumpul karena Hobi
Baginya, membangun koneksi dan terus membuka diri terhadap masukan seringkali memberikan dampak yang lebih besar dibanding sekadar mengejar proyek pertama.
Terus Berlatih agar Terus Bertumbuh
Di balik setiap proyek, Ney percaya selalu ada pelajaran baru. Salah satu pengalaman yang paling ia ingat terjadi ketika mengisi peran utama dalam sebuah audio series saat bulan Ramadan.
Proses rekaman yang panjang membuat sesi tersebut beberapa kali harus diulang karena suara perut laparnya ikut terekam mikrofon.
“Beberapa kali suara perutku masuk ke rekaman. Kita semua ketawa di studio, habis itu harus ulang lagi sampai selesai.”

Meski terdengar lucu, pengalaman tersebut mengingatkannya bahwa bekerja sebagai voice actor membutuhkan kesiapan untuk menghadapi berbagai situasi yang tidak terduga. Proses belajar pun tidak berhenti setelah mendapatkan proyek pertama.
Hal yang sama berlaku bagi mereka yang baru ingin memulai. Ney melihat masih banyak orang yang terburu-buru masuk ke industri voice over karena menganggap profesi ini sebagai cara cepat memperoleh penghasilan tambahan.
“Akan lebih baik jika yang mau memulai voice actor meluangkan waktu untuk memahami industri, memperbanyak latihan, serta mengembangkan kemampuan memahami brief, menginterpretasikan naskah, sampai mengenali ada apa saja dalam sebuah tim produksi.”
Terus Belajar adalah Cara Bertahan di Industri
Bagi Ney, proses belajar akan terus berjalan melalui audisi, evaluasi, hingga berbagai penolakan yang menjadi bagian dari dinamika profesi ini.
“Enggak ada suara bagus atau jelek, adanya suara yang cocok dengan brand atau klien yang membutuhkan jasa kita.”
Sebab sebagian besar pekerjaan diperoleh melalui proses casting, ia mengingatkan agar tidak terlalu larut ketika hasilnya belum sesuai harapan. “Kalau gagal casting, don’t dwell on it and keep moving forward.”

Di tengah perkembangan teknologi AI yang mulai dimanfaatkan dalam industri kreatif, Ney juga meyakini bahwa kemampuan manusia tetap memiliki tempat tersendiri.
Menurutnya, emosi, improvisasi, pemahaman konteks, serta kemampuan membangun koneksi dengan sebuah cerita masih menjadi kekuatan yang sulit tergantikan.
Baca juga:Weekly Issues Recap: Saat Profesionalisme Dipertanyakan Publik
Pada akhirnya, menjadi voice actor bukan tentang memiliki suara yang paling sempurna. Bagi Ney, semuanya membutuhkan kepedulian untuk ingin tahu, untuk mau belajar, berlatih, bertanya, dan lebih lagi terus mencoba.
Ia percaya itulah yang akan membantu seseorang memulai karier sebagai voice actor agar tetap bisa bertahan dan terus berkembang di dalamnya.
Wawancara dengan Ratu Neysa dilakukan pada 17 Juli 2026. Percakapan telah diedit agar lebih ringkas.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
