Fenomena ‘Orang Have, Enough, dan Haven’t

Apakah Anda pernah membaca di TikTok istilah “orang have, orang haven’t” atau bahkan sudah biasa menggunakannya saat berkomunikasi?

Jika iya, berarti Anda cukup mengikuti tren media sosial dan perkembangan bahasa anak muda atau Gen Z.

Penelitian YouGov menunjukkan, 60 persen pengguna media sosial adalah Gen Z. Tak heran jika berbagai istilah baru kemudian bermunculan dan digunakan secara luas di kalangan generasi yang lahir pada 1997-2012.

Lantas, sebenarnya kenapa Gen Z membuat bahasa gaulnya sendiri? Fenomena apa yang sedang terjadi?

Bahasa Gaul Gen Z dan Media Sosial

algoritma media sosial

Media sosial seperti TikTok membuat pola komunikasi lebih dinamis dan adaptif. (Foto oleh Magnific)

Mengintip bagian kolom komentar di TikTok, Anda mungkin akan menemukan berbagai istilah yang menjadi bagian dari bahasa gaul Gen Z.

Istilah seperti “orang have” menggunakan campuran Bahasa Indonesia dan Inggris, yang jika digabung dan diartikan secara harfiah berarti “orang punya” atau “orang kaya”.

Demikian juga dengan bahasa lain seperti “orang haven’t” yang merujuk pada orang yang tidak punya, serta “orang enough” yang menggambarkan orang yang hidupnya dianggap cukup secara ekonomi.

Jika dilihat dari grammarBahasa Inggris, istilah ini memang tidak tepat. Namun, warnaget tetap dapat memahami maksud yang ingin disampaikan.

Ketika istilah tersebut terus digunakan, gaya komunikasi seperti ini kemudian tidak hanya muncul di media sosial, tetapi juga dapat terbawa ke percakapan sehari-hari.

Tidak bisa diketahui persis kapan bahasa gaul baru ini pertama kali muncul. Namun, penggunaannya kini terlihat semakin luas di media sosial.

Penelitian berjudul “Penggunaan Bahasa Gaul pada TikTok sebagai Representasi Identitas Sosial Generasi Z: Kajian Sosiolinguistik” yang dimuat dalam Jurnal Sasindo Unpam menyinggung soal penyebaran bahasa ini.

Penelitian tersebut menyebutkan bahwa media sosial seperti TikTok membuat pola komunikasi lebih dinamis dan adaptif. Hal serupa juga terjadi di Instagram hingga Threads.

Masifnya penggunaan media sosial membuat bahasa gaul menyebar begitu cepat sehingga istilah yang awalnya digunakan oleh kelompok tertentu dapat semakin dikenal dan digunakan oleh masyarakat yang lebih luas.

Baca juga: Performative Reading, Saat Membaca Tak Lagi Sekadar Soal Isi Buku

Bukan Cuma di Indonesia

Bahasa Gen Z yang dibahas sebelumnya mungkin akan lebih familiar bagi warganet Indonesia. Namun, bahasa gaul baru ternyata juga muncul di seluruh dunia.

Misalnya dalam Bahasa Inggris, muncul istilah baru atau slanginternet seperti rizzyang diartikan sebagai “kharisma” atau kemampuan menggoda secara romantis.

Gen Z juga kerap memuji seseorang dengan istilah “slay” yang artinya keren atau bagus. Sementara secara literal, arti kata ini adalah “bunuh” atau “membunuh”.

Masih banyak bahasa slanginternet yang digunakan warganet internasional. Saat diartikan secara harfiah, istilah-istilah tersebut dapat memiliki makna yang berbeda dari penggunaannya dalam percakapan sehari-hari.

Meski mulanya membingungkan, penggunaan yang berulang membuat semakin banyak orang memahami makna istilah tersebut dan menggunakannya dalam berkomunikasi.

Generasi Milenial Juga Punya Bahasa Gaul Sendiri

blank

Milenial merasakan ketika teknologi internet pertama kali masif digunakan pada sekitar 1990an. (Foto oleh Magnific)

Sebelum Gen Z mendominasi media sosial dengan tren mereka sendiri, generasi Milenial sebenarnya sudah lebih dulu melakukan hal serupa.

Kedua generasi ini hidup di tengah era perkembangan pesat internet. Namun, Milenial merasakan ketika teknologi itu pertama kali masif digunakan sekitar 1990-an.

Meski teknologi informasi belum sepesat sekarang, bahasa gaul tetap berkembang dan dikenal melalui media lain, seperti televisi atau radio.

Misalnya adalah istilah “peace, love, and gaul” sebagai slogan yang kerap disampaikan di salah satu acara televisi di Indonesia.

Generasi milenial pun memiliki bahasa gaulnya sendiri. Jika saat ini Gen Z memiliki istilah “orang have”, Milenial mengenalnya dengan istilah lain yaitu “tajir” atau “borju”.

Selain itu, bahasa lain seperti “pick me” juga memiliki istilah lain yang lebih familiar di generasi sebelumnya yakni “caper” atau tukang cari perhatian.

Baca juga: Ketika Pernikahan Influencer Menjadi Konten Komersial

Kenapa Setiap Generasi Punya Bahasanya Sendiri?

Dictionary, bahasa

Komunikasi memiliki fungsi lebih luas dari sekadar berbagi informasi, tapi juga menjadi alat berpartisipasi di lingkungan. (Foto oleh Pixabay)

Ternyata, bahasa gaul bukan cuma muncul belakangan, tetapi sudah ada dari generasi ke generasi.

Keberadaan bahasa gaul di setiap generasi menunjukkan bahwa cara berkomunikasi dapat berubah mengikuti kondisi dan lingkungan yang melingkupinya.

Cara komunikasi seseorang dibentuk mulai dari lingkungan keluarga, kelompok bermain, hingga ketika ia berinteraksi dengan masyarakat secara umum.

Pada akhirnya, komunikasi memiliki fungsi lebih luas dari sekadar berbagi informasi, tetapi juga menjadi cara seseorang untuk berpartisipasi dalam lingkungan sosialnya.

Bahasa gaul yang bermunculan seiring bertumbuhnya suatu generasi menunjukkan adanya solidaritas satu kelompok.

Menggunakan istilah tertentu saat berkomunikasi adalah cara seseorang menunjukkan bahwa dirinya adalah bagian dari budaya digital yang sedang berkembang.

Bisa dibilang, istilah ini menjadi kode yang menegaskan identitas kelompok, dan membedakan satu generasi dengan yang lainnya.

Penggunaan bahasa gaul bukan sekadar mengikuti tren yang sedang viral, tetapi juga dapat menjadi cara seseorang menunjukkan bahwa dirinya relevan dan terhubung dengan komunitasnya.

Kesimpulan

Fenomena bahasa gaul seperti orang have, enough, dan haven’tmenunjukkan bahwa bahasa terus berkembang mengikuti lingkungan sosial dan budaya penggunanya.

Fenomena ini juga dapat menjadi bagian dari cara suatu generasi membentuk identitas dan menunjukkan kedekatan dengan kelompoknya.

Setiap generasi memiliki cara komunikasinya sendiri sesuai dengan lingkungan yang mengelilingi mereka.

Media sosial di masa kini membuat perubahan cara berkomunikasi semakin menyebar dan cepat dikenal serta diadaptasi oleh masyarakat luas.

Baca juga: Collective Anxiety: Saat Derasnya Arus Informasi Mulai Mengganggu Kesehatan Mental

blank

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *