Keaslian yang Di-setting dalam Unfiltered Content

Pernahkah Anda merasa kehidupan seorang artis terlihat jauh lebih “nyata” setelah melihat video tanpa makeup, kamar yang berantakan, atau kesehariannya di rumah?

Konten seperti ini dikenal sebagai unfiltered content.

Secara sederhana, unfiltered content adalah foto, video, atau siaran langsung yang diunggah dengan sedikit atau tanpa proses editing sehingga terlihat lebih spontan dan autentik. Alih-alih menampilkan versi yang sempurna, konten ini memperlihatkan keseharian seseorang sebagaimana adanya.

Namun, benarkah semuanya dibuat secara spontan dan apa adanya?

Di dalam artikel ini, RadVoice akan membahas lebih jauh soal konten tanpa filter dan bagaimana Anda sebagai audiens harus menyikapinya.

Pengertian Unfiltered Content

influencer mikro

Munculnya unfiltered content membuat konten-konten terasa lebih dekat dan relatable seperti yang kita alami sehari-hari. (Foto oleh Magnific)

Secara harfiah, unfiltered contentbisa diartikan sebagai konten yang diunggah tanpa disaring.

Dikutip dari The Social Cat, konten jenis ini biasanya berupa foto, video, atau tayangan live stream yang diunggah tanpa proses editingfilter, atau skenario.

Konten yang ditampilkan merupakan kejadian spontan, sehingga menunjukkan keaslian serta situasi yang dialami masyarakat pada umumnya.

Memperlihatkan situasi asli dan tanpa filter seakan memberi angin segar di tengah banyaknya konten buatan yang muncul di media sosial.

Kehadiran unfiltered contentmembuat konten-konten terasa lebih dekat dan relatable seperti yang kita alami sehari-hari.

Misalnya ketika seorang artis menunjukkan aktivitasnya ketika bangun tidur, dengan situasi kamar yang berantakan. Atau ketika seorang selebgram mengunggah konten ‘Get Ready With Me’ (GRWM) tanpa make up,dan menunjukkan wajah asli tanpa riasan tebal.

Sebagai audiens, wajar jika kemudian kita merasa ternyata kehidupan artis ternyata tidak jauh berbeda, terutama ketika menyaksikan konten tanpa filter semacam ini.

Baca juga: Mengapa Komunitas Semakin Populer? Memahami Fenomena Orang Berkumpul karena Hobi

Alasan Unfiltered Content Jadi Tren

Seiring berkembangnya media sosial, semakin banyak orang merasa lelah dengan konten yang serba sempurna. Wajah tanpa cela, rumah yang selalu rapi, hingga gaya hidup yang tampak ideal perlahan memunculkan standar yang sulit dicapai dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah kondisi tersebut, unfiltered contenthadir sebagai alternatif. Menurut The Handbook, konten jenis ini dianggap lebih jujur karena menampilkan sisi kehidupan yang tidak selalu sempurna, mulai dari wajah tanpa riasan, proses di balik layar, hingga aktivitas sehari-hari yang terasa lebih relatable.

Meski demikian, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting. Benarkan semua konten yang tampak spontan itu benar-benar dibuat tanpa rekayasa?

Ilusi Unfiltered Content, Keaslian yang “Di-setting

Ilustrasi ilusi

Konten-konten yang diunggah tadi sebenarnya sudah melalui proses filtering. (Foto oleh Magnific)

Authenticity atau keaslian menjadi salah satu hal yang paling dicari di media sosial saat ini.

Hal itu terlihat dari populernya vlog keseharian, live TikTok atau Instagram, review jujur, dan berbagai konten yang dibuat seolah spontan tanpa banyak polesan.

Konten semacam ini memberikan kesan bahwa audiens sedang melihat sisi kehidupan seseorang yang apa adanya. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari manusia pada dasarnya tetap ingin menampilkan citra terbaik di hadapan orang lain.

Hal ini sejalan dengan teori sosiolog Erving Goffman dalam bukunya “The Presentation of Self in Everyday Life” (1959). Menurutnya, manusia cenderung ingin selalu terlihat baik atau ingin menampilkan diri di hadapan orang lain.

Fenomena ini juga berkaitan dengan konsep performative authenticity atau keaslian performatif yang beredar di media sosial. Dalam artikel dari Trill Mag dijelaskan bahwa semakin seseorang ingin terlihat autentik, semakin jauh orang itu dari tujuan awalnya.

Hal itu dicontohkan dalam mengunggah deretan foto Instagram “dump” atau konten yang sengaja “dibuang” dengan cara ditampilkan di Instagram.

Konten-konten Instagram “dump” ini pun biasanya sejenis, seperti foto konser blur, kopi diminum di pagi hari, hingga foto jalanan yang terkesan spontan difoto di tempat.

Pada akhirnya, konten-konten yang diunggah tadi sebenarnya sudah melalui proses filtering atau kurasi. Foto yang dilihat orang lain adalah yang dinilai paling baik atau cocok untuk diunggah.

Baca juga: Gen Z Semakin Privat di Media Sosial, Apa Artinya bagi Brand?

Unfiltered ContentJadi Strategi Marketing

marketing

Marketing tanpa filter merupakan strategi pemasaran yang mengutamakan kejujuran serta memberikan pesan asli dari brand. (Foto oleh Magnific)

Seiring meningkatnya popularitas unfiltered content, pendekatan ini tidak lagi hanya digunakan oleh pengguna media sosial, tetapi juga oleh figur publik dan berbagai brand.

Konten yang tampak sederhana, spontan, dan minim polesan dinilai lebih mudah membangun kedekatan dengan audiens dibandingkan materi promosi yang terasa terlalu dibuat-buat.

Karena itu, banyak brand mulai mengadopsi gaya komunikasi yang lebih autentik dalam strategi pemasarannya.

Dikutip dari laman Glints, unfiltered marketing merupakan strategi pemasaran yang mengutamakan kejujuran serta memberikan pesan asli dari brand.

Teknik marketing ini membuat audiens merasa lebih terhubung dengan brand karena keaslian yang dicitrakan.

Penerapannya dapat ditemukan dalam berbagai bentuk. Misalnya, figur publik membagikan rutinitas skincare malam sambil menggunakan produk tertentu, atau brand memperlihatkan aktivitas di balik layar timnya, proses pengemasan pesanan, hingga keseharian para karyawan di kantor.

Semua konten yang disajikan terkesan spontan dan autentik. Namun, sebagai audiens kita tidak benar-benar mengetahui bagaimana proses kreatif di balik pembuatannya.

Bisa saja ada proses pemilihan konsep, pengambilan gambar berulang, hingga penyuntingan sebelum konten tersebut dipublikasikan.

Hal ini bukan berarti brand sedang menipu audiens. Setiap brand memang memiliki standar komunikasi dan pertimbangan tersendiri mengenai informasi yang ingin ditampilkan maupun yang tetap disimpan.

Karena itu, kesan autentik yang muncul di media sosial tetap merupakan bagian dari strategi komunikasi yang dirancang untuk membangun citra sekaligus kedekatan dengan audiens.

Baca juga: Semua Orang Bisa Menulis, Lalu Apa Arti Menjadi Penulis?

Bagaimana Audiens Harus Bersikap?

Setiap kali membuka media sosial kita akan melihat berbagai jenis konten. Sebagian di antaranya mungkin merupakan unfiltered content,yang sekaligus menjadi bagian dari strategi pemasaran sebuah brand maupun figur publik.

Sebagai audiens, kita tidak bisa benar-benar yakin sejauh mana proses kreatif yang dilalui sebuah konten sebelum dipublikasikan.

Ketidaktahuan ini justru harus dijadikan benteng utama bagi audiens supaya tidak mudah percaya terhadap konten yang disajikan.

Penting bagi audiens untuk selalu berpikir kritis setiap kali melihat konten yang beredar di media sosial.

Bersikap kritis bukan berarti selalu curiga, melainkan menyadari bahwa hal yang direkam dan ditunjukkan di media sosial hanya menampilkan sebagian kecil dari realitas yang dipilih untuk dibagikan kepada publik.

Kesimpulan

Unfiltered content muncul sebagai respons terhadap kejenuhan audiens pada konten yang serba sempurna. Gaya penyampaian yang lebih santai dan apa adanya membuat konten jenis ini terasa lebih relatabledan dekat dengan audiens.

Namun, kesan autentik tidak selalu berarti tanpa proses. Baik pengguna media sosial, figur publik, maupun brand tetap melakukan berbagai pertimbangan sebelum memutuskan apa yang akan dipublikasikan.

Dengan kata lain, keaslian yang kita lihat di layar sering kali merupakan hasil dari proses kurasi.

Pada akhirnya, tidak ada yang salah dengan unfiltered content maupun strategi pemasaran yang mengusung kesan autentik.

Yang terpenting, sebagai audiens kita tetap menyadari bahwa setiap konten membawa sudut pandang tertentu dan tidak selalu merepresentasikan keseluruhan kenyataan.

Dengan cara itulah kita dapat menikmati media sosial secara lebih bijak tanpa mudah terpengaruh oleh apa yang terlihat di permukaan

Jika bisnis Anda ingin lebih mudah dikenali dan diingat melalui konten yang bermakna, RadVoice siap membantu mencapai tujuan tersebut melalui strategi yang disesuaikan dengan kebutuhan Anda.

blank

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *