Kisah Dipa Karno Membangun Warm Wishes Club Agar Terus Relevan

Di tengah rutinitas yang semakin padat, bertemu orang baru atau menemukan ruang untuk melakukan hal yang disukai bisa menjadi alasan sederhana untuk keluar dari rumah.

Dikutip dari Kumparan, tempat selain rumah dan tempat kerja untuk berkumpul, berbincang dan membangun hubungan sosial ini kerap disebut sebagai third place. Konsep ini sering dikaitkan dengan komunitas yang menjadi ruang bagi orang untuk berinteraksi dan membangun hubungan sosial tanpa tekanan.

Bagi Dipa Karno, kebutuhan akan third place ini justru muncul dari pengalaman personal. Saat merasa lelah, kehilangan semangat dan inspirasi dengan rutinitas sehari-hari. Ia ingin punya tempat untuk mengambil jeda, bertemu orang baru, dan melakukan hal-hal yang ia sukai.

Dari kebutuhan tersebut, lahirlah Warm Wishes Club, sebuah komunitas wellness untuk Gen Z dan milenial yang menghadirkan berbagai program seperti book club, jurnaling, art crafting, hingga sesi cerita bersama.

Dipa membangun Warm Wishes Club sebagai komunitas offline yang terbuka untuk umum. Program yang dihadirkan beragam dan selalu berganti setiap waktu, dengan frekuensi sekitar satu hingga dua kali dalam sebulan.

Baca juga: Ingin Menjadi Voice Actor? Simak Pengalaman Ratu Neysa Memulainya

Ketika Rasa Lelah Jadi Awal Lahirnya Warm Wishes Club

Warm Wishes Club pertama kali hadir pada November 2025. Saat itu, Dipa sedang merasa lelah, kehilangan inspirasi, dan menjalani rutinitas seperti autopilot.

“Aku menyadari bahwa setiap hari, aku dan banyak orang lain itu butuh ruang untuk bisa melambat, merenung, terhubung dengan orang lain, dan jadi diri sendiri tanpa tekanan harus menjadi sosok tertentu,” ujar Dipa.

Keinginan tersebut kemudian ia terjemahkan menjadi sebuah komunitas bagi Gen Z dan milenial untuk bertemu, mengeksplorasi berbagai minat, dan berbagi hal-hal yang mereka sukai. Kegiatannya pun beragam, mulai dari membaca, berbagi rekomendasi, sampai membuat karya seni.

blank
Warm Wishes Club merupakan komunitas offline yang terbuka untuk umum dengan program yang beragam. (Foto oleh Dipa Karno)

Dipa membangun komunitas ini sendirian. Meskipun begitu, ia tetap mengajak teman-temannya untuk berkolaborasi dalam berbagai program yang ia buat. “Terkadang aku minta teman aku untuk ikut jadi co-host juga,” ceritanya.

Baca juga: Bagaimana Hobi Membaca Shiva Berkembang Menjadi Toko Buku Impor Online

Setiap Program Memberikan Pelajaran Berharga

Program pertama Warm Wishes Club justru bukan wellness workshop, melainkan sesi baca dan diskusi santai tentang buku fiksi romantis.

Sebagai pembaca genre tersebut, Dipa melihat bahwa cerita romantis masih sering dianggap ringan dan tidak terlalu penting, sehingga para pembacanya pun sering diremehkan.

Karena itu, melalui program tersebut Dipa ingin menyediakan ruang bagi para penggemar buku romantis untuk berdiskusi, berbagi rekomendasi, dan menikmati bacaan yang mereka sukai tanpa merasa dihakimi.

“Pembaca romance juga pantas dirayakan. Justru dari program ini akhirnya kita punya banyak program lain,” ujarnya.

Respons yang antusias terhadap program pertama ini membuat Dipa semakin bersemangat untuk menghadirkan program lainnya, mulai dari wellness workshop, hingga journaling.

blank
Salah satu program buku yang dilaksanakan Warm Wishes Club. (Foto oleh Dipa Karno)

Dari program-program tersebut Dipa belajar satu hal: “Komunitas tumbuh paling alami dari sesuatu yang memang kita sukai,” katanya.

Pemahaman ini membuat Dipa tidak mau terlalu cepat melabeli Warm Wishes Club sebagai komunitas tertentu. Ia ingin komunitasnya terus tumbuh bersama anggota dan tidak terpaku pada satu jenis kegiatan, selama setiap program tetap membawa semangat yang sama.

Ketika Komunitas Tumbuh, Tantangannya Berubah

Seiring komunitas terus berkembang, bagi Dipa tantangan terbesarnya sebagai community builder bukan lagi soal apakah ada orang yang tertarik, melainkan soal keberlanjutan.

“Tantangannya adalah bagaimana membuat anggota mau kembali ke program selanjutnya, menghadirkan program yang tidak membosankan, dan menjaga ruang yang hangat dengan ide-ide baru,” ujar Dipa.

Karena Warm Wishes Club masih ia jalankan sendiri, Dipa juga perlu menjaga batas dirinya. Ia memilih untuk tidak memaksakan diri. “Aku mencoba mengetahui batasanku. Sekarang, hanya ada satu sampai dua program dalam sebulan.”

blank
Dipa tidak mau melabeli Warm Wishes Club sebagai komunitas tertentu atau mengikuti tren semata. (Foto oleh Dipa Karno)

Di tengah tren komunitas yang cepat berubah, Dipa juga tidak ingin terburu-buru mengikutinya. Baginya, terlalu sibuk mengejar tren justru dapat membuat komunitas kehilangan kesempatan untuk membangun koneksi yang bermakna melalui setiap program.

Baca juga: Ketika Ibadah Harus Berjalan Berdampingan dengan Deadline, Cerita Gigih Liputan di Tanah Suci

Pada Akhirnya, Komunitas yang Bertahan Dimulai dari Kepedulian

Bagi Dipa, tujuan komunitas bukan sekadar memiliki banyak anggota. Lebih dari itu, ia ingin membangun koneksi yang bermakna dan berjangka panjang.

Dari pengalamannya membangun komunitas, Dipa menyadari bahwa koneksi tersebut tidak membutuhkan strategi yang rumit. Menurutnya, yang lebih penting adalah kepedulian yang konsisten dan memastikan setiap orang yang datang ke Warm Wishes Club merasa benar-benar diperhatikan.

blank
Bersama Warm Wishes Club, Dipa ingin membangun koneksi yang bermakna dan berjangka panjang.  (Foto oleh Dipa Karno)

Dipa juga berbagi pesan kepada siapa pun yang ingin mulai membangun komunitasnya sendiri, “Jangan takut untuk memulai. Selama kamu punya visi yang jelas dan membangunnya dari hati, pasti akan selalu ada orang yang merasa sejalan dengan apa yang kamu bangun,” ujarnya.

Perjalanan Warm Wishes Club juga menunjukkan bahwa menjaga komunitas tetap hidup bukan soal terus mengikuti tren atau memperbesar skala secepat mungkin. Yang lebih penting adalah menjaga semangat dan alasan di balik komunitas tersebut tetap sama, meski format dan programnya terus berkembang.

Wawancara dengan Dipa dilakukan pada 31 Agustus 2026. Percakapan ini telah diedit agar lebih ringkas.

blank


PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *