Menulis berita ekonomi bukanlah perihal sederhana, bahkan bagi wartawan yang biasa berkutat di desktersebut.
Tantangannya adalah bagaimana membuat berita ekonomi yang biasanya dipenuhi angka menjadi lebih mudah dipahami, tapi informasinya tidak melenceng.
Hal inilah yang dihadapi asisten redaktur VIVA.co.id, Nadiyas Utami Pratiwi.
Mulai dari harga emas, cabai dan bawang di pasar, hingga IHSG menjadi angka-angka yang ia “santap” sehari-hari untuk diinformasikan ke publik secara lebih sederhana.
Baca juga: 3 Tips Mengubah Laporan Keuangan Menjadi Berita Ekonomi yang Menarik
Berawal dari Nulis Berita Artis ke Bisnis

Nadiyas mengawali kariernya sebagai wartawan di Insert Live tahun 2019. (Foto oleh Nadiyas Utami Pratiwi)
Nadiyas mengawali kariernya di dunia jurnalistik profesional sebagai wartawan di Insert Live pada tahun 2019.
Saat itu, ia bertugas menulis artikel bertema showbiz sehingga banyak membahas serba-serbi informasi soal dunia artis.
Ingin berkembang lagi, Nadiyas kemudian pindah ke tempat bekerjanya kini yaitu VIVA.co.id sebagai asisten redaktur isu nasional yang fokus pada berita ekonomi.
Tentunya perubahan drastis ini bukan perihal mudah bagi Nadiyas.
Namun, berbekal pengetahuannya soal penulisan berita showbiz, perlahan perempuan kelahiran Jakarta ini mencoba menyesuaikan diri.
Di awal kariernya sebagai asisten redaktur ekonomi, ia mencoba menulis artikel soal kekayaan artis yang sedang ramai diberitakan.
“Aku awalnya untuk memulai, membuat artikel sisi ekonomi dari artis-artisnya ini. Misalnya yang lagi ramai ada Ruben Onsu, Raffi Ahmad, ya kan? Ya udah kita cari sisi bisnisnya dia, profit-nya dia, apakah selama ini menjadi seorang pebisnis,” kata Nadiyas.
Artis yang sedang ramai dibicarakan itu kemudian dibongkar jika memiliki bisnis, terkait kerugian atau masalah lainnya.
Perlahan, terbiasa membuat artikel ekonomi artis, Nadiyas kemudian mulai menulis tentang pejabat dan tokoh nasional lainnya.
Saat ini, ia sudah tidak terlalu banyak menulis soal ekonomi artis, tapi ekonomi secara umum.
“Kalau sekarang, aku sudah tidak lagi ngurusin artis. Jadi sahamnya udah mulai ke yang umum, perbankan, saham-saham pabrik apa, perusahaan apa, segala macam,” katanya.
Baca juga: 7 Soft Skill Saat Mengedit Berita yang Harus Anda Kuasai
Mengintip Sehari-hari Asisten Redaktur Ekonomi
Kini, Nadiyas sudah dua tahun bekerja sebagai asisten redaktur ekonomi. Meski awalnya mengakui merasa cukup pusing, tapi kini semuanya terasa lebih lancar.
Sebagai asisten redaktur, Nadiyas bertugas untuk melakukan editing pada tulisan reporter yang masuk ke redaksi.
Tugas utamanya adalah memastikan artikel yang naik sudah lolos sensor, layak, dan akurat.
Selain itu, asisten redaktur juga bertugas membuat tulisan-tulisan lain yang merupakan follow-upisu dari reporter di lapangan.
Jika nantinya membutuhkan informasi tambahan, maka asisten redaktur bisa menghubungi reporter untuk mencari sumber soal isu yang ingin dikembangkan.
“Jadi biasanya aku memecah angle yang sudah reporter kerjakan di lapangan, karena mereka biasanya kasih materi utamanya, mereka enggak kerjakan materi sampingannya,” ujar dia.
Di luar itu, asisten redaktur juga bertanggung jawab atas page viewsdari website yang dikerjakan, dalam hal ini VIVA.co.id.
Oleh karena itu, selain melakukan editingpada tulisan reporter, Nadiyas juga memantau isu lainnya yang sedang ramai dibahas berkaitan dengan desk-nya.
Biasanya, artikel yang berkaitan dengan isu trendingmemiliki kesempatan untuk dibaca lebih banyak orang sehingga meningkatkan page views.
Baca juga: Panduan Membuat Annual Report yang Menarik dan Informatif
Cara Bikin Keruwetan Artikel Ekonomi Jadi Lebih Ramah Dibaca Ala Nadiyas

Cara membuat artikel ekonomi yang rumit menjadi mudah dipahami ala Nadiyas. (Foto oleh Nadiyas Utami Pratiwi)
Asisten redaktur juga bertugas supaya artikel berita yang naik di website mudah dipahami pembaca.
Sebab, jika kontennya mudah dipahami akan lebih banyak pembaca yang masuk ke website dan tentunya menambah page views.
Sebagai wartawan yang berpengalaman menulis showbiz, Nadiyas mempunyai cara sendiri supaya artikel rumit bertema ekonomi lebih mudah diterima pembaca dari semua kalangan.
Misalnya dalam menulis soal saham. Bagi orang awam, saham adalah hal yang menyeramkan karena menyangkut uang dalam jumlah besar.
Namun, Nadiyas berusaha menyederhanakannya dengan menggunakan bahasa ala showbiz.
“Contohnya kayak menambah kata-kata, ‘saham BBCA turun nih, enaknya dibeli atau dibuang ya?’ Jadi, nada-nada yang biasa aku pakai untuk showbiz, aku adaptasi ke saham ekonomi,” katanya.
Cara menyederhanakan artikel ekonomi ala Nadiyas itu pun cukup bekerja untuk menarik lebih banyak pembaca dan meningkatkan page views.
Melalui bahasanya yang “nyentrik” Nadiyas ingin menunjukkan bahwa isu-isu berat seperti saham sebenarnya tidak semenyeramkan itu untuk dipahami.
“Berita ekonomi tuh enggak semenyeramkan itu. Judulnya kalau udah kaku banget, ‘bentar, lihat dulu nih, gimana ya? Gue otak-atik ya? Apa yang bagus untuk gue kulik dari judulnya?’,” ungkap Nadiyas.
Oleh karena itu, sampai saat ini Nadiyas masih terus berusaha menggali supaya artikel ekonomi menjangkau lebih banyak orang melalui pemilihan diksi dan gaya tulisan yang menarik.
Baca juga: Menulis Berita Terjemahan: Antara Adaptasi dan Copy-Paste
Kesimpulan
Bagi Nadiyas, bekalnya sebagai wartawan showbiz banyak mempengaruhi dirinya dalam menulis berita ekonomi.
Meskipun awalnya sulit, namun karena sudah terbiasa maka kini menulis artikel berita ekonomi bukanlah hal yang menakutkan lagi.
Memang tidak setiap hari semua berjalan lancar, ada kalanya pekerjaannya mengharuskan Nadiyas berpikir lebih keras dari biasanya.
Namun, selama terbiasa semuanya menjadi lebih mudah dan tantangan yang dihadapi pun akan menemui jalan keluarnya.
Wawancara dengan Nadiyas Utami Pratiwi dilakukan pada 6 Juli 2026. Percakapan ini telah diedit agar lebih ringkas.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
