Mengenal Parasocial Branding, Saat Brand Seperti Teman Dekat

Mengapa ada orang yang menunggu unggahan sebuah brand seperti menunggu kabar dari teman? Atau merasa mengenal sebuah brand begitu baik meski belum pernah berinteraksi langsung?

Di media sosial, fenomena seperti ini semakin mudah ditemukan. Beberapa brand bahkan terasa lebih dekat dibanding yang lainnya. Mereka bercanda di kolom komentar, membagikan cerita di balik layar, atau menghadirkan sosok yang secara konsisten menjadi wajah dari brand tersebut.

Fenomena ini bisa ditemukan pada berbagai brand lokal. Nanda, misalnya, kerap membagikan kesehariannya sebagai admin dari brand Aminda ID. Konten yang diunggahnya sering memperlihatkan proses kerja, aktivitas harian, dan cerita di balik brand.

Contoh lain dapat dilihat pada Petit Bites. Banyak audiens mengenal brand ini melalui sosok Fadilla Siska atau Minbites selaku founder yang juga aktif melakukan live streaming dan membagikan cerita kesehariannya yang terasa dekat dan personal.

Hasilnya, audiens tidak hanya mengenal produknya. Mereka juga mengikuti cerita, nilai, dan karakter yang dibangun di balik brand tersebut.

Pendekatan inilah yang belakangan semakin sering dikenal sebagai parasocial branding.

Baca juga: Apa Itu Earned Media? Pengertian, Manfaat, Contoh, dan Mengapa Penting

Apa Itu Parasocial Branding?

Dalam dunia marketing, Adela Vukovic menyebutkan parasocial branding merupakan pendekatan yang diadaptasi dari istilah psikologi parasocial relationship yaitu kedekatan yang dirasakan seseorang terhadap tokoh publik.Â

Mudahnya dipahami sebagai pendekatan yang berupaya menciptakan kedekatan emosional antara brand dan audiens.

Tujuannya bukan membuat brand berpura-pura menjadi teman. Sebaliknya, pendekatan ini berfokus pada bagaimana sebuah brand dapat terasa lebih manusiawi, lebih mudah dikenali, dan lebih relevan dalam keseharian audiens.

Alih-alih hanya berbicara tentang produk, brand membangun hubungan melalui cerita, kepribadian, nilai, dan komunikasi yang konsisten sehingga audiens merasa mengenal brand tersebut.

Tipe - tipe brand awareness
Parasocial branding membuat brand dapat terasa lebih dekat. (Foto oleh Magnific)

Karakteristik Parasocial Branding

Perlu diketahui juga, jika tidak semua brand yang aktif di media sosial menggunakan pendekatan ini.

Untuk memudahkan Anda mengenalinya, berikut beberapa karakteristik yang umumnya muncul dalam pendekatan ini.

Baca juga:8 Perbedaan Copywriting vs Content Writing, Jangan Sampai Tertukar!

Memiliki Suara dan Kepribadian yang Konsisten

Audiens dapat mengenali karakter sebuah brand bahkan tanpa melihat logonya. Contohnya seperti beberapa detik awalan yang Anda temui saat membuka Netflix.

Artinya, audiens memahami bagaimana brand datang atau menyampaikan pesan. Konsistensi inilah yang membantu membangun rasa familiar dari waktu ke waktu.

Menampilkan Sisi Manusia di Balik Brand

Banyak brand kini mulai memperlihatkan orang-orang yang bekerja di balik layar, proses kreatif, hingga cerita yang terjadi sehari-hari.

Contohnya adalah Rahman Permana untuk Tenue de Attire dengan konten-kontennya yang menarik, membawa koleksi-koleksi brand terasa lebih dekat dan relate untuk audiens.

Konten semacam ini sering kali terasa lebih dekat dibanding promosi produk karena menghadirkan aspek yang lebih unik dan autentik.

Menggunakan Bahasa yang Akrab

Salah satu ciri yang cukup menonjol dari parasocial branding adalah cara brand berkomunikasi yang terasa lebih dekat dan natural.

Alih-alih menggunakan kalimat formal seperti, “Terima kasih atas antusiasme pelanggan terhadap produk kami,” banyak brand kini memilih gaya komunikasi yang lebih santai dan percakapan, seperti, “Kalian beneran bikin stok minggu ini habis dalam hitungan jam.”

Pendekatan seperti ini membantu menciptakan kesan bahwa audiens sedang berbicara dengan seseorang, bukan sekadar menerima pesan dari sebuah perusahaan.

Responsif terhadap Audiens

Brand yang berhasil membangun kedekatan emosional umumnya tidak hanya aktif mengunggah konten, tetapi juga terlibat dalam percakapan dengan audiens.

Mereka merespons komentar, menjawab pertanyaan, hingga ikut terlibat dalam diskusi yang relevan dengan komunitasnya.

Etika Jurnalistik Netizen Sebagai Sumber Berita
Parasocial branding juga membuat brand terlibat dalam percakapan dengan audiens. (Foto oleh: Magnific)

Respons sederhana seperti membalas komentar atau mengapresiasi unggahan pelanggan dapat membuat audiens merasa diperhatikan dan dihargai.

Dalam jangka panjang, interaksi-interaksi kecil ini membantu memperkuat hubungan antara brand dan audiens.

Mengapa Parasocial Branding Diminati Saat Ini?

Dulu, hubungan dengan brand banyak terbentuk melalui iklan televisi, billboard, atau media cetak. Saat ini, brand hadir di tempat yang sama dengan teman, keluarga, kreator, dan media yang kita konsumsi setiap hari.

Melalui Instagram, TikTok, YouTube, podcast, hingga LinkedIn, audiens dapat mengikuti perjalanan sebuah brand secara lebih dekat dibanding sebelumnya.

Tidak mengherankan jika banyak brand mulai berinvestasi pada storytelling dengan pendekatan parasocial branding.

Bahkan, studi yang dikutip dalam sebuah jurnal Indonesia Scientific Publication menunjukkan bahwa parasocial branding dapat meningkatkan daya ingat terhadap brand sekaligus membentuk persepsi yang lebih positif yang dapat berkembang menjadi sebuah kepercayaan.

Baca juga: Apa Itu Prinsip Cover Both Sides? Bisa Jadi Bumerang, Begini Cara Tepat Penerapannya

Pendekatan branding ini juga membuat interaksi terasa natural dan autentik sehingga brand tidak hanya menjual produk, tetapi juga membangun komunitas, identitas, dan rasa memiliki.

Ketika audiens merasa menjadi bagian dari cerita sebuah brand, loyalitas yang terbentuk sering kali lebih kuat dibanding hubungan yang hanya didasarkan pada transaksi.

Jika Ingin Mengadopsi Pendekatan Ini, Apa yang Perlu Dilakukan?

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mengadaptasi pendekatan ini:

Tentukan Karakter Brand Terlebih Dahulu

Akan cukup sulit membangun kedekatan jika brand belum memiliki identitas yang jelas.

Sebelum berbicara kepada audiens, Anda perlu memahami bagaimana mereka ingin dikenal dan nilai apa yang ingin mereka bawa dalam setiap komunikasi.

Ceritakan Lebih dari Sekadar Produk

Audiens tidak selalu datang untuk melihat promosi.

Mereka juga tertarik pada proses, cerita, pengalaman, tantangan, dan perspektif yang ada di balik sebuah brand.

Semakin kaya cerita yang Anda bagikan, semakin banyak peluang untuk membangun koneksi yang lebih dalam.

Konsisten dalam Berkomunikasi

Parasocial branding tidak dibangun dalam semalam.

Rasa familiar muncul karena audiens terus bertemu dengan karakter dan pesan yang sama dalam jangka waktu yang panjang. Karena itu, konsistensi sering kali lebih penting dibanding viralitas sesaat.

Fokus pada Hubungan, Bukan Angka

Likes, views,dan impressions tetap penting untuk mengukur performa konten.

Namun dalam jangka panjang, kedekatan emosional memberikan dampak yang lebih berkelanjutan dibanding angka yang tinggi tetapi tidak menciptakan keterikatan dengan audiens.

Kesimpulan

Di era ketika perhatian menjadi komoditas yang semakin langka, kedekatan bisa menjadi salah satu keunggulan terbesar sebuah brand.

Parasocial branding menunjukkan bahwa audiens tidak selalu mencari hubungan yang sempurna dengan sebuah brand. Mereka hanya ingin merasa bahwa ada manusia, cerita, dan nilai yang bisa mereka kenali di baliknya.

Jika brand Anda ingin membangun komunikasi yang lebih bermakna dan menciptakan hubungan yang bertahan lebih lama dengan audiens, tim RadVoice siap membantu kebutuhan bisnis Anda.

blank


PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *